Celoteh dan Cerita

@da Apa Dengan Twitter?

Beberapa hari yang lalu saya baca salah satu artikel di internet yang nyebutin kalo Twitter mau naikin jumlah batasan tweet nya menjadi 10.000 karakter. Sontak saya kaget, sebenarnya buat apa Twitter menaikkan jumlah karakternya? Tentu jika iya, linimasa dipastikan akan terasa sesak. Belum lagi jika banyak promoted tweet, makin penuh lah jadinya.

Sebenarnya 140 karakter adalah sebuah angka sakral yang harus dipegang teguh oleh Twitter. Batasan karakter ini juga menjadi unique selling proposition dari channel ini. Angka ini juga menjadikan pengguna Twitter untuk lebih jeli dalam memilih kata.

Kalo memang akan dinaikkan menjadi 10.000 karakter, lalu apa bedanya dengan Facebook?

Celoteh dan Cerita

Aku, Kime dan Madar (Part 2)

Halooo, kembali lagi dengan Aku disini. Berhubung cerita si Kime dan Madar yang kemaren udah lama ga di diterusin, sekarang aku mau ngelanjutin cerita yang sempet nganggur beberapa bulan lamanya.

Kisah ini dimulai di bulan September. Kime dan aku kebetulan sedang selo-selonya dari yang namanya kuliah, karena saat itu kita udah ga punya lagi tanggungan yang namanya kuliah –tinggal skripsi sih, tapi ya jangan anggep beban deh, rayakan bebas teori dengan jalan-jalan kesana sini.

Oh iya! sebelum lanjut, aku belum ngenalin temenku Kime sama kalian. Jadi di tulisan kali ini mungkin kita kenalan dulu ya sama dia.

kimeKime ini cewe sawo matang yang suka banget sama yang namanya tape. Sebagai tape fangirl, dia suka banget sama apapun yang berhubungan dengan tape. Dari wedang tape, tape goreng, tape ketan, sampe parahnya dia punya parfum yang baunya kaya tape (dia ngelesnya itu aroma bunga, tapi namanya ga jelas dan aku lupa). Ibarat kalo genderuwo ditandai dengan bau gosong, nah kalo kamu mencium semerbak aroma tape, pasti ada Kime yang akan menampakkan diri.

Kime juga suka banget jalan-jalan, maklum, dia sista-sista yang sehari-hari selalu sibuk ngurusin online shop jualan baju yang udah dia bangun sejak lama. Ngeluhnya setiap hari selalu sama, kalo ngga tentang customer yang bego, ga sabaran, marah-marah, banyak alasan, banyak mintanya, pengan cepet, bayar ngaret, duit mepet, hingga ribuan jenis customer lainnya yang ga bisa disebutin satu-satu.

Dibalik segala ke-sista-an nya itu, Kime ini cewe yang baik banget. Menurutku dia cewe keempat paling baik yang pernah aku temui, setelah ibuku, eyangku, dan adikku. Aku sering banget ngrepotin dia dalam segala hal, dari minta tolong A, B, sampe Z, sampe-sampe aku mikir kalo Kime ini punya bakat yang membuat dia bisa menemukan kebahagiaan dalam segala kerepotan. Aku ngga tau, mungkin dari sejuta orang di dunia, yang baiknya bakal kaya Kime cuma satu.

Desas desusnya, di lingkungan temen cewenya, kehadiran si Kime ini paling ditunggu-tunggu. Karena si Kime ini selalu punya gosip-gosip tentang asmara yang paling disukai temen-temennya, yaitu tentang dirinya sendiri hahaha –yang bakal aku bocorin ‘dikit’ disini *evil smirk*

Ah udah ngomongin Kime nya, aku yakin kuping dia udah panas banget pas aku nulis tentang dia disini. Kedepan aku bakal ngenalin si Madar sama kalian, tunggu part 3 nya ya!

Celoteh dan Cerita

This is Ja!

mlz
Ternyata di Jakarta kemana-mana rasanya jauh. Jarak yang mungkin bisa ditempuh 20 menit di Jogja, disini bisa hampir satu jam. Gara-gara tadi macetnya panjang luar biasa dan ga kira-kira.

Makin males nulisnya gara-gara tadi siang disapa ibu-ibu kerudungan dengan sangat luar biasa.

Anjeng lu buruan maju!Ibu-ibu tadi siang, 2016

This is Ja, the city of mirage.
Everything are moving fast, the traffic ain’t.

Celoteh dan Cerita

Textual Gesture

texting-at-the-table22-1024x725

Jaman berubah, teknologi perlahan merubah cara dan kebiasaan kita dalam melakukan berbagai kegiatan sehari-hari. Seperti menulis; Budaya menulis tangan perlahan mulai ditinggalkan. Berganti dengan mengetik pada layar kaca ponsel.

Pada dasarnya komunikasi adalah proses penyampaian pesan dari komunikator ke komunikan, dimana diantara kedua pihak tersebit terjadi 2 proses penting, encoding dan decoding –komunikator melakukan encoding untuk menyisipkan maksud dan tujuannya didalam pesan tersebut, dan komunikan menasfirkan pesan itu dengan melakukan decoding.

Namun, diantara keduanya terdapat suatu hal yang dinamakan noise. Noise ini diibaratkan semacam pengganggu yang bisa mengakibatkan ‘salah tangkap’ atau miskomunikasi.

Hal ini menjadikan setiap pesan tentu sangat mungkin akan ditasfirkan berbeda-beda oleh setiap orang, tergantung tingkat noise nya. Akan lebih nyaman untuk menelepon teman dari dalam kamar dibandingkan jika kita menelepon mereka di tengah-tengah konser musik Metallica.

Ada berbagai bentuk dan cara dalam kita berkomunikasi, ada yg verbal langsung tatap muka, dan telepon ataupun tekstual melalui email, dan chat. Masing-masing punya kelebihan dan kekurangan.

Jika kita berkomunikasi verbal secara langsung dan tatap muka, intonasi dan bahasa tubuh memiliki peran penting dalam proses penyampaian pesan. Hal tersebut bisa mengurangi dampak dari noise yang ada sehingga pesan bisa diterima dengan baik.

Namun bagaimana dengan komunkasi tekstual?

Terkadang jika kita mengamati, terdapar gestur dan intonasi didalam teks yang kita tulis. Tidak seperti komunikasi verbal yang intonasiya dan gesturnya dilakukan secara langsung dan diucapkan, komunikasi tekstual melakukan hal tersebut dengan simbol-simbol.

“Aku sayang kamu”

“Aku sayang kamu…”

“Aku sayang kamu!”

“AKU SAYANG KAMU”

atau

“Aku sayaaaang kamuuuuu~”

Jika kita membaca teks tersebut, suara yang terdengar di dalam kepala kita untuk setiap teks akan berbeda-beda bukan?

Hal ini tentu bisa dimanfaatkan untuk ‘membungkus’ pesan yang disampaikan agar bisa diterima dengan baik sesuai dengan maksud dan tujuan kita.

Lanjut besok 🙂

Celoteh dan Cerita

1/90 @ Di Kota Orang

Tempatnya enak. Suasananya ya seperti agensi-agensi biasanya.

Ga ketat waktu, tapi juga ga punya jadwal.

Alur kerjanya masih bingung. Ah tapi itu masalah waktu doang.

Bisa bertahan? Bisa kok 🙂

Celoteh dan Cerita

Melawan Matahari

 

Screenshot_2016-01-06-01-12-55-02

Surya perlahan hilang bersembunyi di balik selimut awan.

Angin berhembus pelan, membawa butir air sejuk yang tak terlihat.

Hujan rintik datang. Lemah gemulai, melayang, tak berdaya melawan angin.

Bersama waktu, ia berubah deras, menghujam tegas.

div

Kali ini, aku merasakan takut yang mungkin pernah kamu rasakan. Terombang ambing layaknya hujan gerimis tadi siang. Hanya bisa menebak-nebak di kota orang.

Tidak, tidak banyak, tidak boleh banyak-banyak.

Karena kukira tak apa.
Ada waktu yang akan menyelaraskan segalanya.

Dimulai dari nol,

menjadi satu,

dua,

tiga,

dan seterusnya…

div

Ah sudahlah!

Dalam segalanya, kali pertama itu absolut.2016

Bukan mulai dari mana, tapi sejauh mana tempat berakhirnya.

Dalam senja ke 538km melawan matahari.

Celoteh dan Cerita

Perpisahan

Lantai 2 burjo samiasih

2 gelas es susu coklat

semut-semut merah

kartu perpustakaan

dan tak lupa, uang denda 40 ribu rupiah

Selamat merantau!

Jangan lupa perjanjian bulan September!

Celoteh dan Cerita

Could Strangers Fall in Love?

Beberapa hari yang lalu saya lihat sebuah video klip dari Seafret berjudul Wildfire dari linimasa Path teman saya. Video ini menarik karena menampilkan suatu social experiment, dimana mereka ingin membuktikan satu pertanyaan :

bisakah dua orang yang benar-benar belum mengenal satu sama lain dapat jatuh cinta dengan hanya 36 pertanyaan saja?

Check this out!

[youtube id=”RHhkd2B87Q8″ align=”center” mode=”normal” autoplay=”no” maxwidth=”500″]