Life is a balance between rest and movement
Mendengar, Menulis, Bogor, dan Jakarta
Seseorang pernah berkata, kesalahan dari seorang penulis ada dua. Pertama ia kerap kali menghabiskan tenaga untuk mengedit tulisannya. Kedua, dia kadang tidak percaya diri dengan gaya bahasa yang dimilikinya.
Itu adalah kedua kesalahan yang saat ini masih sering aku lakukan.
Namaku Sinda, seorang Introvert Thinker yang pernah merasa lebih nyaman untuk berkeluh kesah kepada sebuah buku. Aku senang sekali menuliskan hal-hal luar biasa yang kualami setiap hari di sana, dan itu kulakukan dari SMP, hingga sekarang. Bahkan aku mungkin sudah lupa berapa buku yang telah kuhabiskan untuk itu.
Kebiasaanku menulis ini membuatku punya 15 bentuk tulusan tangan yang berbeda-beda lho hahaha. Sst, tapi jangan bilang siapa-siapa yah kalau aku juga bisa meniru gaya tulisan ayahku.
…
(lanjut besok, ngantuk bat)
Jakarta dan Sumber Penghidupan
Pekerjaanku ini adalah pekerjaan yang cukup menguras keringat. Maksudku, benar-benar menguras keringat ya bang, karena semua pakaian dan cat-cat ini gerah sekali!
Oh untuk cat yang aku pakai ini aman kok bang untuk kulit, ya cenderung aman lah, paling hanya sedikit iritasi saja merah-merah kalau hari sendang panas. Iya bang, mungkin itu cuma keringat yang tersumbat, makanya iritasi. Ah tidak apa-apa, toh cuma seminggu sekali seperti ini hahaha.
Namaku Ramlah Suryaatmaja, anak ketiga dari lima bersaudara. Asli orang Banten, tapi sudah menetap di Jakarta sejak abang belum lahir, tepatnya tahun 1992.
Oh, ente udah lahir ya? wah maaf bang maaf -coba sini lihat KTP nya, boleh kan? hahaha
Kalau ditanya mengenai pekerjaanku ini, sudah pastilah ini hanya pekerjaan sambilan bang, toh rata-rata orang yang mencari nafkah dengan cosplay di Kota Tua ini sudah punya pekerjaan tetap. Hari Senin hingga Jumat aku bekerja sebagai guru di salah satu SD di Tangerang, lumayan lah bang sudah 11 tahun aku disana. Sabtu dan Minggu aku ya seperti ini kerjanya.
Heran ya bang? orang-orang juga heran kok bang kenapa aku memilih cosplay sebagai pekerjaan sambilanku. Kenapa tidak yang lain sih? seperti buka toko, ngojek online, bahkan ada yang pernah bertanya dan ujung-ujungnya menawarkan MLM hahaha.
Aku punya dua alasan bang, yang pertama, aku suka melihat keceriaan anak-anak kecil yang lalu-lalang disini. Kedua, insyaAllah pekerjaan ini halal dan bebas riba bang, karena aku tidak mematok tarif untuk berfoto, seikhlasnya saja, bahkan gratis juga tidak masalah. Alhamdulillah, hingga saat ini hasil yang kudapatkan cukup lumayan bang. Alasan yang sama juga berlaku jika abang tanya kenapa aku menjadi guru. Pokoknya yang penting barokah, itu saja.
Untuk mencari nafkah di Jakarta itu bagiku gampang-gampang susah. Gampang nya ya karena disini semuanya bisa jadi uang. Susahnya, adalah mencari sumber penghidupan yang benar-benar ‘bersih’ dan bisa mencukupi biaya hidup di Jakarta itu lumayan sulit.
Saya istirahat dulu ya bang, sudah hampir menjelang Ashar. (Ramlah, 2017)
Jakarta dan Waktu yang Berjalan Cepat
Wah saya malu mas kalo mau di tanya-tanya seperti ini hahaha. Tapi mungkin tak apa lah ya, sekali kali diajak ngobrol, tapi disambi nggambar ya mas.
Saya Hardi mas, dan saya bukan pelukis beneran. Nih lihat, yang saya lukis juga cuma foto, bukan orang beneran hahaha. Pekerjaan ini kalo dibilang ya cuma hobi saja di akhir pekan, syukurlah malah bisa jadi satu penghasilan tambahan.
Pekerjaan ini baru saja ku mulai awal tahun ini mas, belum terlalu lama. Daripada nganggur di rumah gak ngapa-ngapain, mending ke sini kan? gelar tikar, nggambar, dapat uang, lalu sore menjelang maghrib pulang.
Untuk keuntungannya, ya bisa dibilang lumayan mas. Satu gambar ini aku bisa dapat Rp60.000 hingga Rp100.000, tergantung mereka sih ujung-ujungnya, mampu menawar sampai berapa hahaha. Lumayan mas buat tambah-tambah uang jajan anak.
Saya dulu juga pernah apes mas. Saat itu tiba-tiba ada pengunjung datang ke sini minta digambarin, gak nanggung-nanggung mas, mereka sekeluarga ada lima orang! Bapak, Ibu, dan ketiga anaknya. Mereka ngasih saya foto di handphone nya untuk digambar. Saat itu fotonya mereka sedang berjejer dengan latar belakang museum Fatahillah.
Mulai lah saya menggambar mas. Baru beberapa menit, si Ibu minta cepet, katanya handphone nya mau dipake buat ngirim foto. Lantas saya kasih aja handphone nya, biar dia ngirim foto dulu, setelah itu saya lanjut lagi.
Setelah dia kirim foto, saya lanjutkan lagi mas. Nah, lalu aja handphone nya dikasihkan ke saya, tiba-tiba ada telpon masuk. Pokonya ada ada aja lah mas! Nah buntutnya, setelah gambar nya jadi. Saya cuma dikasih dua lembar Rp20.000, belum sempat saya protes, mereka sudah sibuk sendiri dan pergi. Hahaha, apes pokoknya hari itu!
Dengan pekerjaan ini, saya seperti bisa mempercepat waktu yang berjalan. Saat saya menggambar, saya benar-benar menikmatinya dan tak terasa pagi pun sudah menjadi senja. (Hardi, 2017)
Edisi Khusus: Jakarta, Narkotika, dan Titik Balik (Bagian 2)
Tanpa pikir panjang aku lari sekencang kencangnya. Uang yang baru saja kuterima kulempar hingga berhamburan. Aku berlari masuk ke dalam gang yang cukup sempit. Belum lagi selokan, polisi tidur, dan pot-pot kecil yang ada di samping membuat gang itu terasa makin sempit.
Aku berlari kencang dengan ketakutan, aku tidak sempat lagi menoleh kebelakang untuk melihat jarak antara aku dan polisi-polisi itu. Mereka berteriak menyuruhku berhenti, tapi tidak mungkin aku menurutinya.
“DOR!”, terdengar suara pistol keras sekali. Aku tidak tahu apakah mereka mengarahkannya kepadaku, atau ke udara. Namun sesaat setelah mendengar suara tembakan itu, aku langsung lemas, aku jatuh tersungkur tak kuat lagi berlari. Ketakutanku memuncak dan mengunci seluruh badanku. Aku tertangkap.
Setelah itu aku digiring ke kantor polisi. keadaan di sana sepertinya tidak usah kuceritakan, biasa lah, abang juga pasti sudah tau kan?
Beberapa hari kemudian aku divonis 2 tahun kurungan atas tuduhan pengedaran narkoba. Beruntung aku dijebloskan di Salemba dan hanya dikenai hukuman kurungan.
Keadaan di rutan bagaimana? abang nanti akan aku ceritakan, namun dengan satu syarat, jangan ditulis dimanapun.
***
Setelah dua tahun berlalu, akhirnya aku bebas. Satu tahun 10 bulan lebih tepatnya, setelah pengurangan dan remisi yang aku terima. Saat keluar dari tahanan, aku kebingungan untuk mencari kerja bang. Pilihanku saat itu hanya dua, keduanya sama-sama susah: mencari pekerjaan lain, atau kembali ke dunia lamaku.
Aku putuskan untuk mencari satu pekerjaan yang halal. Menjadi penjual empek-empek keliling. Untuk mendapat pekerjaan itupun prosesnya cukup lama bang, karena sulit bagi seorang mantan narapidana untuk bisa kembali dipercaya orang.
Di jalan pun saat itu aku masih sering ditertawakan dan dicibir oleh orang-orang, bahkan teman-temanku sendiri. Dibilang cemen lah, penakut lah, apapun itu harus aku terima dengan lapang dada.
Status mantan narapidana itu menjadikan daganganku tidak terlalu laku bang, daganganku paling banyak sehari hanya laku 4 hingga 5 porsi saja. Sudah banyak warga yang tahu tentang keadaanku. Mereka bahkan menjauhkan anak-anak mereka dariku, takut diculik mungkin.
Kesulitan ekonomi ini membuatku berpikir untuk kembali lagi ke duniaku yang lalu. Dimana uang bukanlah masalah besar, dan mudah untuk didapatkan. Aku pun tidak bisa meminta ke kedua orangtua ku, karena tahu besarnya malu yang mereka dapatkan dari kelakuanku.
Aku menceritakan keluh kesahku ini dengan seorang wanita yang telah aku kenal sejak lama. Dia adalah putri dari haji dan hajah yang sangat baik di dekat rumahku.
Kehangatan yang aku dapat ketika berkunjung ke rumahnya membuatku merasa menjadi manusia yang sebenar-benarnya. Mereka tidak pernah menyinggung tentang pekerjaanku dulu, ataupun hal-hal yang berkaitan dengan itu. Itu adalah satu titik balik dimana aku dibimbing untuk berdamai dengan masa laluku, dan menghadapi masa depan.
***
Aku pun sekarang sudah punya pekerjaan yang jauh lebih baik dibanding dulu, menjadi salah satu mitra dari perusahaan ojek daring di Jakarta. Aku bergabung sejak tahun 2014, setelah berbagai pekerjaan lain yang pernah aku lalui sebelumnya. Bagiku ini adalah pekerjaan yang mulia, karena keuntungan dan itung-itungan di dalamnya cukup transparan. Selain itu aku juga punya pekerjaan-pekerjaan lain yang sanggup menckukupi kebutuhan keluargaku sehari-hari.
Wanita yang tadi kuceritakan telah menjadi Istriku bang. Kami dikaruniai 1 putri, saat ini dia sudah duduk di kelas 3 SMK. Aku bahagia sekali karena dia tidak macam-macam dalam bergaul. Ketika aku menawarkan sepeda motor, dia menolaknya karena lebih senang naik angkot atau aku jemput di sekolah. Setelah lulus, katanya dia ingin langsung bekerja saja. Aku menghargai keputusannya saat ini, walau aku sebenarnya tetap ingin dia bisa kuliah dulu.
Jakarta adalah kota dengan ribuan pilihan. Kita bisa menjadi apapun di sini. Jadi pahlawan atau penjahat bisa, kerja halal atau kerja haram juga bisa. Tinggal abang sendiri ingin jadi seperti apa. (Dia, 2017)
Edisi Khusus: Jakarta, Narkotika, dan Titik Balik (Bagian 1)
Sebelumnya penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya. Identitas dan beberapa bagian dari hasil percakapan penulis dengan narasumber terpaksa harus dihilangkan dengan alasan privasi.
Lima belas tahun lalu, daerah Murdai sini seperti pasar malam bang. Kalau abang mau cari barang seperti Inex, Coke, Marijuana semua ada, tinggal pilih pokoknya.
Polisi dan aparat saat itu punya andil dalam mengamankan daerah ini. Pengedar, bandar, warga, dan aparat pun sama-sama tahu dengan persebaran narkotika yang ada disini. Biasanya yang minta jatah itu polisi-polisi yang masih kroco bang. Karena biasanya kalau ada penggrebekan, itu atas perintah komandannya. Jadi sudah tidak asing bang bagi kami untuk ditangkap oleh polisi ‘teman’ sendiri.
Toh hukum mengenai narkotika sendiri saat itu tidak se-tegas saat ini. Ada beberapa temanku yang bolak balik masuk rutan dengan kasus yang sama, namun hanya mendapatkan penambahan waktu penjara saja di kasus yang kedua, tidak sampai hukuman mati seperti saat ini. Mungkin bisa dibilang mereka beruntung, coba mereka bergerak di jaman ini, pasti sudah masuk peti itu! Untunglah mereka akhirnya sempat tobat dan berhenti.
Aku mulai terjun di tahun 1987. Saat itu aku masih muda dan benar-benar tidak peduli dengan risiko yang akan aku terima. Aku rela melakukan apapun demi uang dan minuman. Pokoknya sekedar untuk senang-senang sampai pagi, tidur lelap, bertemu malam , dan kembali bekerja.
Layaknya remaja pada umumnya, awalnya aku hanya ikut-ikutan karena diajak oleh temanku. Dia bilang kalau dia punya pekerjaan sambilan yang cukup mudah dan bisa mendapatkan keuntungan yang besar.
Kalau ditanya berapa angkanya, bisa dibilang cukup besar bang untuk saat itu. Satu bendel uang pecahan Rp10.000 sering kudapatkan di tiap transaksi, aku ingat betul saat itu masih bergambar R.A Kartini. Total jumlahnya mungkin sekitar 100 hingga 300 ribu, tergantung besar transaksinya. Pokoknya minuman hampir tidak absen kutenggak, bahkan dalam seminggu aku masih sempat bermain wanita di daerah dekat Kampung Rawa sana.
Keadaan mulai berubah di awal 1994. Aku tidak tahu bagaimana jelasnya, tetapi kata teman-temanku daerah ini sudah mulai tidak aman. Harus ditemani dan ekstra hati-hati jika akan melakukan transaksi, dengan siapapun itu, terutama pelanggan baru. Benar saja, di malam tahun baru salah satu temanku tertangkap karena nekat untuk melakukan transaksi sendiri, dan dijebak aparat di daerah Rawasari. Setelah serangkaian proses dilakukan, akhirnya temanku dijebloskan di Nusakambangan. Aku sedikit terkejut mendengar hal itu, tahun-tahun sebelumnya biasanya dengan kasus serupa hanya dijebloskan ke lapas Bandung, tidak sampai Nusakambangan.
Tertangkapnya temanku itu membuatku gusar. Keberanianku tidak sebesar dulu yang main sikat sana sini tanpa banyak pikir. Pendek kata, aku takut tertangkap.
Ketakutanku itu masih berlanjut hingga tahun 1995. Transaksi yang kulakukan tidak sebanyak dulu. Aparat makin agresif dalam membasmi narkotika yang beredar. Hal ini menyebabkan distribusi yang dilakukan pada saat itu cukup terganggu. Dan hal itu tentu membuatku makin takut.
Hingga di suatu malam aku bermimpi, di mimpiku itu aku tertangkap oleh polisi setelah melakukan transaksi. Aku sontak terperanjat ketakutan, aku lihat temanku tertawa di sampingku ketika kuceritakan mimpiku tadi.
“Itu artinya, besok lo lolos!”, tuturnya sambil tertawa. Kebetulan esok siang ada paket yang harus aku jual ke langgananku.
Esoknya, aku langsung bergegas menuju daerah Bukit Duri untuk bertemu salah satu langgananku. Aku datang kesana sendirian tanpa mengajak temanku. Mulanya aku sempat ragu, karena malam kemarin temanku sempat mengingatkan untuk tetap berhati-hati dan mengajaknya untuk menemaniku. Tetapi karena kupikir sudah langganan, ini pasti akan seperti transaksi yang biasanya.
Sesampainya disana, aku mendapati langgananku di tempat biasa, di satu sudut gang kecil. Aku cukup heran karena dia datang duluan, biasanya dia terlambat.
Sebenarnya aku masih ragu dengan transaksi ini. Masih terpikir di benak ku kata-kata temanku semalam. Tapi di sisi lain aku ingin transaksi ini segera selesai, aku pulang, dan bersenang-senang dengan uang yang akan aku dapatkan sebentar lagi.
Bergegas aku mendatanginya dengan membawakan paket yang ia minta.
Setelah paket kuserahkan, tiba-tiba terdengar derap langkah tegap. Ku balik badanku, dan nampaknya mimpiku kemarin akan menjadi nyata…
(Bersambung di bagian kedua)
Jakarta dan Hati yang Tertinggal
Aku tidak seperti orang-orang lain yang ada disini. Aku bukan orang-orang yang datang dengan harapan besar untuk merubah hidup mereka dengan menaklukkan ibukota. Jakarta adalah rumah tempat aku kembali.
Aku lahir, besar, dan menjalani masa muda di Jakarta. Walau dulu kuliahku di Bandung, aku selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi kota ini.
Saat ini aku bekerja di salah satu perusahaan tambang batu bara di Kalimantan. Satu perusahaan yang dulu pasti pernah menjadi mimpi dari setiap mahasiswa tambang karena gaji dan bayarannya. Tapi percayalah, saat ini aku adalah bukti hidup bahwa uang bukanlah segalanya.
Satu bulan penuh aku hidup di area tambang. Pepohonan bak tirai besi yang mengasingkanku dari kehidupan. Di sana sunyi, senyap, sesekali hanya ada derai daun yang diterpa angin. Mungkin akan sedikit lebih ramai ketika kami sedang membuka titik tambang baru. Dentuman dinamit cukup bisa menolongku dari rasa sepi.
Disana tak ada televisi, sinyal pun susah. Aku harus menggunakan telepon satelit untuk bisa kontak dengan kolega ku di kantor yang berjarak 4 jam perjalanan dari sini.
Besok senin adalah akhir dari kepulanganku di kota ini. Hanya satu minggu aku disini, sebelum akhirnya aku kembali ke Kalimantan dan menjalani rutinitasku disana. Kemarin aku juga sempat ikut pilkada yang menurutku adalah pilkada paling luar biasa sejauh ini.
Oh belum bang belum! aku belum menikah bang, hahaha. Tahun lalu sempat berencana sih, namun ku pikir dengan kondisi dan pekerjaan ku saat ini, kasihan pacarku nanti. Toh juga dia di sini masih mengejar gelar Magister nya di UI. Semoga dia bisa bersabar.
Jakarta diciptakan dari bising dan rindu. Suara klakson dan umpatan di jalan seperti hela nafas yang menjadikan kota ini hidup. Bangunan tinggi penantang langit bercokol di setiap sudut jalan. Kedai-kedai kopi dengan atmosfir berbeda-beda tak terhitung lagi jumlahnya. Dan tentunya perbincangan dengan dia yang masih setia menungguku disini. Itulah kenapa aku rindu tempat ini!
Jakarta, rumah yang ingin selalu kupeluk erat sebelum aku meninggalkannya lagi. (Hasyim, 2017)
#31HariMenulis
Jakarta dan Keluarga Kecilku
Aku Salman, seorang ayah yang cukup beruntung dikaruniai keluarga yang menyenangkan. Kenalkan, Anik, istriku. Kami cukup cepat memutuskan untuk berkeluaga. Tahun 2004 kami bertemu, tiga bulan setelahnya, kulamar dia. Dari pernikahan kami, lahir lah lima orang jagoan dan jagoanwati. Ana, Rena, Fani, Ega, dan yang kecil Fauzan. Walau rumah kami di kampung kecil, namun aku bersyukur didalamnya cukup semarak.
Kami cukup penat untuk tidak berlibur di akhir minggu kali ini, kebetulan istriku yang seorang bidan di kampung berhasil mendapat izin dari puskesmas. Aku sendiri bekerja sebagai pegawai BPR dekat rumahku. Oh iya, kami berasal dari Rangkas Bitung, berjarak satu kali kereta dan berhenti di Tanah Abang.
Kali ini keluargaku memutuskan untuk berlibur di Jakarta, aneh ya? orang-orang memilih pergi dari Jakarta, tapi kami malah kesini, hahaha. Sebenarnya tujuan kami kesini tidak semata-mata liburan, tapi juga menjenguk ibu mertuaku yanh sedang sakit. Sekalian saja lah, kebetulan anak-anak sepertinya sedikit bosan bila di rumah terus.
Ega senang sekali naik TransJakarta! dia di dalam selalu tertawa ketika jalan sedikit bergeronjal. Tadi dia sempat menangis karena kami turun dari bis, tapi sekarang sudah berhenti karena digoda terus oleh kakaknya.
Jakarta menurut kami adalah kota yang besar. Banyak sekali hal-hal yang tidak ada di kampung. Mal-mal tersebar dimana mana, sedangkan di Rangkas sana cuma satu yang menurutku cukup besar. Itulah kenapa kami berlibur ke sini, karena disini banyak tempat untuk dikunjungi.
Mas, jika berkenan tolong fotoin kami sekeluarga yah. (Salman, 2017)
#31HariMenulis
Jakarta dan Kebanggaan Sejati Seorang Suami
Aku Faisal, di balik jaket ojek daring ku ini, aku adalah seorang suami yang sangat bangga dengan istriku. Karena istriku adalah sahabat, rekan kerja, sekaligus koki terbaik bagiku dan kedua jagoan kecilku.
Kali ini aku akan ceritakan bagaimana aku bertemu dengan Kartika, istriku. Awalnya kami tak saling kenal, aku hanya tahu saja kalau dia salah satu koki yang cukup sering mondar mandir mengecek sayur dan ikan dari distributor yang selalu datang setiap pagi. Kebetulan di dekat situ adalah rest area, tempat favoritku untuk melewatkan waktu.
Aku kerap menggodanya dengan siulanku, maklum, di generasi saat itu teknik ini cukup jitu untuk mencuri perhatian dari seseorang yang kita suka. Awalnya dia marah, tapi marah bukan akhir dari segalanya bukan? justru karena dia marah itu makanya mungkin dia lebih mengingatku dibanding pria lainnya.
Hanya dalam beberapa bulan, kami pun mulai berpacaran. Saat itu tidak ada namanya gawai, tidak ada namanya WhatsApp, sarana komunikasi ku dengan dia ya hanya ketika di tempat kerja, dan di telepon umum. Ya mungkin sesekali kita keluar bareng, tidak sering, karena peraturan hotel melarang kami untuk keluar sebelum shift kami berakhir.
Karena tidak bisa keluar dengan bebas, ia kerap kali memberikan masakkan buatannya khusus untuk aku. Menu andalannya adalah Nasi Goreng Kambing, enak sekali pokoknya! Aku sangat suka dengan masakannya.
Oh iya, Kartika saat itu bak power ranger menurutku, dia rela bekerja siang dan malam guna memenuhi jatah shift yang ia dapatkan. Dan dia orangnya tidak suka mengeluh, itulah yang membuatku jatuh hati kepadanya; dia adalah wanita yang tangguh. Sosok yang mungkin bisa aku andalkan di rumah saat aku bekerja mencari nafkah untuk keluargaku kelak.
Lalu aku memutuskan untuk meminangnya di tahun 2009, dan pernikahan kami membuahkan dua orang jagoan kecil, Irfan dan Regga. Saat ini Irfan sudah kelas dua SD, dan Regga masih TK kecil.
Aku sebenarnya masih ingin cerita lebih mas, tapi kosan mas sepertinya sudah dekat. Begini saja mas, kalo mas berkenan, mas boleh datang ke rumah kami di daerah Tanah Tinggi, dekat kok dari sini. Disana aku akan membuktikan bahwa Nasi Goreng Kambing buatan istriku benar-benar enak. Besok langsung saja hubungi saya melalui nomor yang tadi saya pake buat telepon ya mas! (Faisal, 2017)
#31HariMenulis
Jakarta dan Kisah Tiga Sepeda Kumbang
Daerah Kota Tua ini sudah seperti rumahku sendiri. Dulu tempat ini masih sangat rimbun dengan pepohonan besar yang sudah ada dari zaman kolonial belanda.
Namun dibawah rindangnya pohon, tempat ini banyak banci mas, mereka bekerja ketika hari mulai gelap. Banyak semak berbau pesing, orang-orang kencing sembarangan, jorok sekali lah. Syukurlah, saat ini tempat ini sudah dibersihkan, dibangun dengan rapi sehingga cukup banyak dikunjungi wisatawan.
Sejak 1990 aku datang dari Pemalang untuk mengadu nasib di Jakarta. Menjadi tukang ojek sepeda dengan jalur Kota Tua – Sunda Kelapa. Saat itu tarifnya Rp100 untuk sekali jalan, cukup mas untuk biaya kos dan dua bungkus nasi sehari. Kalau sekarang, dengan uang sejumlah itu pengamen pun tak mau terima mas.
Waktu berjalan cepat, zaman terus berubah, hingga tiba lah saat banyak orang menggunakan motor. Usaha ojek sepeda milik ku gulung tikar di tahun 1994.
Dari saat itu hingga setahun kedepan, aku bekerja di toko bangunan milik orang Medan di daerah Jakarta Barat. Disana aku bertemu dengan seorang wanita yang kelak menjadi istriku, Wati.
Setelah menikah, aku sadar aku harus mencari penghasilan lebih. Kebetulan aku punya teman sesama mantan penarik ojek sepeda. Dia mengajakku untuk menyewakan sepeda wisata di Kota Tua. “Gampang, aku ada kenalan”, tuturnya. “Sediakan modal saja untuk beli 3 sepeda kumbang”.
Dari saat itu hingga kini, inilah pekerjaan yang setia aku tekuni. Dengan pekerjaan ini, satu anakku sudah lulus SMA, dan si kembar masih SD kelas tiga. Istriku juga membantu dengan berjualan nasi di depan rumah.
Naik turun di pekerjaan ini jelas ada mas. Dulu aku sempat dua kali kehilangan sepeda, yang pertama dicuri oleh turis, yang kedua dilarikan oleh teman seprofesi. Sedih ya pasti ada mas, namanya juga kehilangan. Tapi untungnya aku masih punya satu sepeda yang masih bisa disewakan, dan saat ini aku sudah punya dua sepeda lagi, alhamdulillah.
Hahaha, apa ya mas. Aku bingung kalau ditanya pendapatku tentang Jakarta. Untuk tinggal di Jakarta memang perlu perjuangan yang lebih dibanding di kampung. Disini kita harus pandai beradaptasi, karena sebagai orang Jawa, unggah-ungguh menjadikan kita tidak enakan. Sedangkan disini namanya tidak enakan itu terkadang pada akhirnya malah menyusahkan diri kita sendiri.
Namun harus diingat mas, itu bukan serta merta kita menghilangkan identitas dan tata krama kita sebagai orang Jawa. Kita di Jakarta harus bisa untuk lebih berterus terang tentang apa yang kita rasakan, dan gigih untuk mencapai sesuatu yang kita inginkan. (Muh. Ramlan, 2017)
#31HariMenulis