Mata Nurdin mulai memerah. Sesekali ia menguap, namun tak tuntas.
“Kau mengantuk?”, kata Sipir.
Nurdin tetap diam. Matanya bergerak liar melirik setiap sudut ruangan. Ia sesekali melihat jam dinding yang telah menunjukkan pukul 23.30
“Istirahatlah nak, tenangkan dirimu”, tutur sang Ustad
“Diam kau Ustad!”, bentak Nurdin.
“Aku akan tetap terbangun hingga 15 bajingan bersenjata itu memaksaku tidur selamanya ”